Tampilkan postingan dengan label Things to do. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Things to do. Tampilkan semua postingan

14 Mei 2016

Ha ha ha ...

Ha ha ha
Mari menertawakan segala:
Ketidakberuntungan
Kekesalan
Kemuraman
Kesendirian
Kesedihan

Kita tertawakan semua
Ketimbang jadi luka dan
Menorehkan perih di hati
Mari kita terima dengan tertawa
Agar lebih ringan beban jiwa

Mari tertawakan semua
Agar harihari terburuk pun
Bisa kita jalani
Dengan lebih ringan
Ha ha ha.....(*)

13 Mei 2016

Langkah Baru

Dengan ayunan berbeda
dari  kemarin
ku kan melangkahi
harihari mendatang
tanpa keluh
tanpa kesah
tiada risau

setiap kata
kan berujung senyum
setiap gerak
kan berakhir tawa

biar ceria menular
ke dalam hati
juga ke orang-orang sekitar(*)

13 April 2015

Menulis = Pengorbanan

Sebuah tulisan, apalagi yang panjang seperti buku, pastilah hasil dari sederet pengorbanan. Ada malas dan kantuk yg dibunuh. Ada hasrat meneguk kesenangan yang ditekan. Ada disiplin tak berkesudahan.

Semua itu justru tak mau hadir di diriku. Aku lebih suka menghabiskan waktu di depan televisi, atau berselancar di dunia maya.

Mungkin juga karena tak tahu pasti mau menulis apa dan buat apa. Menulis tanpa arah juga rasanya tak berguna.

Jadi memang ada dua masalah di sini: menetapkan tujuan dan mengukuhkan motivasi.(*)

08 April 2015

Tanjakan

Hidup kadang seperti ini:
Menanjak, curam, berdebu
Tak nyaman

Episode yang niscaya ada
Setelah jalan datar, turunan, dan kemudahan

Usahlah menangis dan  balik langkah
Sesekali menghela napas atau mengeluh tak apa
Tapi tetap jejakkan kaki
Satu satu
Setindak demi setindak
Sambil berbisik: akan ada akhir baik di ujung langkah
Sambil tanamkan yakin: ada buah manis dari segala sabar ini (*)

07 April 2015

Lihat ke sekeliling

Menunduk hanya membuatmu tenggelam
Dalam renung dan ratapan diri
Lalu langkah seakan terbebani
Terkunci pemikiran dan kalkulasi soal mungkin dan tidak

Luasnya dunia tak lagi kau lihat
Lebarnya peluang tak lagi terasa

Harusnya angkat muka
Palingkan wajah lihat sekeliling
Datangi dan selami semua
Hingga kau tahu pasti
Batas mungkin dan tidak dari jejak kaki nan pasti
Dan bukan sekedar kalkulasi di dalam kepala

Keadaan kadang melenakan
Membuat kita nyaman
seperti berenang di lautan padahal hanya kubangan
Harus berani melangkah
Keluar meninggalkan kenyamanan
Bersua hal baru yang mungkin bisa jadi darah baru

Jangan terus menunduk
Lihatlah sekeliling....(*)

Mengapa khawatir?

Dimana-mana bisa dengan mudah kita temui: di pinggir jalan, tempat-tempat sempit, dan lokasi lain yang tak terbayangkan. Mereka berusaha mandiri dengan usaha sendiri. Mungkin terlihat kecil, sepele, dan nyaris susah diterima nalar. Tapi mereka hidup. Tertawa di tengah keterbatasaannya.

Mereka adalah pekerja gigih. Bangun pagi buta atau begadang semalaman. Mereka memanggul, mendorong, atau terus berjalan tanpa ujung. Mereka hanya meraih sedikit tapi tak pernah mau berhenti. Atau memang tak mungkin berhenti. Karena bila itu dilakukan sama artinya mati.

Mereka ada di sekeliling. Terpingirkan oleh sistem dan keadaan. Tapi lihatlah mereka. Di tengah keterbatasan tetap ulet. Di tengah derita mereka masih bisa bercanda tawa.

Lalu, mengapa kita--yang lebih beruntung-- harus terus ditelikung suntuk? Terus khawatir tentang hal-hal kecil yang mungkin akan terjadi? Terus merasa tidak beruntung? (*)

02 April 2015

Menanti

Kita selalu alfa
Menjadikan saat ini sebagai antara
Jembatan menuju esok yang
Semoga lebih sentosa
Lalu kita bunuh waktu
Dengan halhal remeh tak berarti
Padahal esok belum tentu tiba
Yang kita miliki hanya saat ini
Mengapa hanya disiasia(*)

08 Desember 2012

Renungan ketika Jatuh

Ada banyak kejatuhan dan strata kekecewaan. Yang manapun menimpa kita, ingat saja: alangkah beruntungnya kita masih hidup. Betapa beruntungnya kita masih punya kesempatan mengayunkan kaki, meski jalan yang kita jejak penuh onak duri.

Kita hanya perlu berhenti sejenak. Memikirkan banyak hal-hal berarti yang masih kita nikmati. Mensyukuri kesempatan yang masih bisa direngkuhi.

Kadang memang sangat menekan. Sangat menyakitkan. Beban itu, yang yang memojokan kita ke sudut tak disangka dan tak kita harapkan. Tapi tak semestinya semua itu membutakan mata hati. Akan hidup dan peluang lain yang masih ada.

Bisa juga kita melihatnya dari kaca mata berbeda. Kesulitan-kesulitan kita itu. Anggap itu menjadi kesempatan. Untuk mengukuhkan pijakan atau mencari celah lain.

Bila itu bisa dilakukan dan kita mampu mengarungi tantangan baru dengan semangat dan gagah berani, maka semua bisa mejanjikan akhir berbeda. Akhir yang lebih baik.(*)

06 April 2010

Keajaiban usai sudah

usah lagi percaya keajaiban
yang mudah, yang menjanjikan
pasti hanya kebohongan
yang dibalut janji manis

langkah sudah panjang
memutar menyusuri onak kerikil
sudah yakin kini
yang kita terima
hanya buah dari yang kita usahakan

menanti keajaiban
hanya membuat kita
terninabobo oleh
harapan hampa

lebih baik bangun
langkahi jalan di depan
nikmati saja
meski penuh semak belukar(*)

22 Maret 2010

Jadi rembulan yang beda

akulah rembulan
gelap di dalam, tanpa daya
hanya bisa memantulkan
sinarsinar mereka saja

tapi kuingin menjadi
bulan yang beda
serupa chairil yang mati muda
meninggalkan nama
dan kepiawaian memantulkan segala

kuhanya perlu lebih banyak keluar
bersua lampulampu segalam macam
yang temaram
yang gemilang
lalu kupancarpancar saja semua
dengan caraku
dengan gayaku(*)

19 Oktober 2009

Sudah Benderang Semua

kukira sudah benderang kini
yang terpenting hanyalah
keberanian
dan ketekunan
sudah saatnya kini
ketakutan dikubur
raas malas dilepas
lalu mulai menekunkan diri
dengan apa yang dimiliki
mungkin kusam
mungkin asam
mungkin tak berarti apa-apa
pada akhirnya akan ada yang berjodoh
dengan tulisan kita
menganggapnya sebagai
potret
cermin
atau bahkan telaga
tempat menghela semangat
untuk meniti hidup
sudah terang kini
yang terpenting berbuat
dengan yang kita miliki
tak usai risau
dengan kelebihan mereka semua
sudah terang kini
benderang
seperti siang
tinggal bangkit dari tidur
dan menguatkan diri
menapak, setindak setindak(*)

28 April 2009

Tulisan untuk dilupa

ada hari kosong
ada hari buruk
ada hari-hari panen buah
itulah hidup penulis

yang terpenting berani
terus menggores
lalu melupakannya
suatu hari si buruk itu
mungkin akan menelurkan
mutiara hikmah dan inspirasi

jadi: menulislah terus
setidaknya sehari satu(*)

21 April 2009

Melangkah Dengan Kompas

semua orang seperti memegang lilin
pembimbing langkah menembus kabut kehidupan
langakah-langkah pun lebih terarah: bertujuan

aku justru melangkah dalam buta
meraba-raba
pasrah menanti apa yang kan tiba

lilin itu karya
kompas sekaligus prasasti hidup
yang membuat segala momen bisa dikenang
yang membuat hidup lebih abadi(*)

30 Maret 2009

Kutanam Benih

ku tanam setiap saat
benih-benih itu:
baik dan buruk bercampur aduk
aku pun pulas,
mimpi semua akan berujung sempurna
tapi datanglah hari itu
saat semua kelabu
biji buruk berkecambah
menjelma pepohonan raksasa
menelan semua sinar harapan
aku lantas mengeluh
salahkah sesiapa
lupa sudah persemaian dulu(*)

22 Maret 2009

Akulah Itu

mungkin akulah dinding
batu menjulang di lembah luas
selalu memeluk sunyi
kecuali ada suara suara
datang mengetuk
maka kugaungkan dengan serba lebih

mungkin aku adalah gong
terdiam di sudut
atau termangu mangu menjadi penonton
saat ditabuh
barulah gema itu
mengatasi segala

mungkin akulah muka danau itu
tenang dalam keruh atau biru
baru bergelombang
saat diusik lemparan-ceburan

mungkin aku semua itu
dan harus lebih seksama
menyerap segala
lalu menirukannya sebisa bisa(*)

24 Februari 2009

Karya

Karya serupa anak: berjiwa, memiliki nasibnya sendiri. Hadir dari sebuah proses, kadang panjang kerap pendek, ia tertuang dalam sebuah bingkai waktu. Ia tersimpan rapi atau mungkin tergeletak terbungkus lupa. Ketika kelak melihatnya lagi kita pun dibuat terheran-heran: betulkan aku melahirkannya?

Karya tak ada yang gagal. Yang terburuk pun akan mengandung banyak hal: inspirasi yang bisa digali lagi, potret yang menyimpan kenangan, atau sebuah titik dalam proses belajar melangkah belajar menjadi lebih baik.

Karya adalah buah dari perjuangan. Kita berkeringat, malawan malas, dan kerap berkali-kali gagal mewujudkannya. Ketika ia akhirnya menjelma, kita pun merasa puas meski hanya sesaat. Sesaat saja karena kemudian sering kali kita menemukan lubang yang menganga dan ingin segera menambalnya. Karena itu karya kerap jadi perjuangan tanpa ujung.

Karya adalah penanda. Karenanya seorang akan diingat. Karenanya seseorang akan dihargai. Jadi bila belum juga punya karya hari ini: menangislah lalu bergebas meneguhkan hati untuk memulai.(*)

17 Februari 2009

Lingkaran Inspirasi

semua memegang obor
pada lingkaran itu
api menyala nyala
seperti mata api bersumur minyak
karya
karya
karya
seperti berlomba
menuang isi hati
menorehkan inspirasi
aku terpana menatapanya
di sini, di luar lingkaran itu
hanya bisa menikmati
tanpa memberi
bangun
bangun
bangun
hanya karya yang akan membuatmu dikenang(*)

03 Februari 2009

Otak Kosong

seperti muka danau: diam, tanpa riak
baru berombak bila diusik
itulah aku: kerap suwung di dalam
hilang akal, tanpa memori
sehingga menjadi kerbau:
mudah digiring sesiapa yang lebih berisi
mungkin harus lebih sering dihardik
dengan ide yang menghentakentak
dan kecemerlangan yang mencengangkan
agar terus terbangun
dan tak lena dalam impian(*)

27 Januari 2009

Kukan

kukan akrabi mereka
para penjual parfum
biar harum jadi milikku

kukan akrabi semua
para penulis itu
agar gelegak kreativitas
ikut menulari hari-hariku

kukan coba
kukan teguh
kukan berpeluh
setiap hari
mengukir bait-bait keindahan(*)

23 Januari 2009

Hidup Adalah Melempar Bola

"Hidup ibarat melempar bola ke dinding kongkrit di depan mata. Sekeras apa kita berusaha melempar, sekeras itu pula pantulan yang kembali ke kita."

Saya mendapat filosofi hidup yang menarik itu dari seorang tetangga, seorang penjahit yang tengah beranjak sukses. Pria Tionghoa itu mengaku mendapatkan ajaran itu dari sang ayah.

Filosofi itu terdengar sederhana, tapi kian dipikir kian terasa masuk akal. Bukankah rezeki yang kita dapat kerap kali setara dengan besarnya usaha yang kita curahkan. Bukankah kebaikan yang kita limpahkan ke sekitar kita pada akhirnya akan berbalas kebaikan yang setara, atau kadang malah lebih.

Tetangga saya itu sudah mampu menerapkan filosopi itu dalam bekerja dan bertetangga. Dia sukes dalam usaha dan disukai oleh tetangga lain. Sedang saya, ya baru sekedar mengangguk-angguk menyadari kedalam maknanya.(*)