: buat ss
ia macan yang garang
sekali terusik aumannya membahana
tak putus-putus
sangat pendendam ia
aneh bahwa penyair jadi pilihannya
bukankah jalan itu mengutamakan kehalusan hati?
ia memilih meminggir
atau dipinggirkan keadaan, entahlah
lalu menatap semua yang di pusat
sebagai musuh: harus diusik, harus dicabik
baginya hanya ada dua kubu
dirinya dan mereka
yang memilih menyebrang
siap dirajam katanya yang bercabe
ada yang keder
lalu memilih lari
tapi banyak yang tertawa
sambil geleng kepala: heran atau lucu oleh tingkahnya
ah, ia kau sungguh seniman yang berbeda(*)
17 April 2009
15 April 2009
Kaka Menangis Menjerit
hari ini si kaka nangis. luar biasa tangisnya; menjerir-jerit, mengguling-guling di kasur. masalahnya sepele aku menghentikan aktivitas dia yang sudah kelamaan menyimak tayangan lagu2 di dvd.
o..o..o, aku pun takjub. 2,5 tahun dan ulahnya sudah seperti itu. akan jadi apa dia nantinya? ah, segera saja kekhawatiran itu kesingkirkan.
yang pasti aku sempat hampir leleh dan menyerah atas keinginan kerasnya. tak tega benar melihat tangisan seperti itu. tapi kupukir bila itu kulakukan, maka ia akan terus mengulang dan mengulang. akhirnya kukeraskan hati. ia nangis, ku tinggal mandi. kubiarkan neneknya yang menangani.
pelajaran hari ini, semoga kamu mengerti ka: tak semua keinginan kita bisa kessampaian. kedisiplinan kunci mencapai kesuksesan.(*)
o..o..o, aku pun takjub. 2,5 tahun dan ulahnya sudah seperti itu. akan jadi apa dia nantinya? ah, segera saja kekhawatiran itu kesingkirkan.
yang pasti aku sempat hampir leleh dan menyerah atas keinginan kerasnya. tak tega benar melihat tangisan seperti itu. tapi kupukir bila itu kulakukan, maka ia akan terus mengulang dan mengulang. akhirnya kukeraskan hati. ia nangis, ku tinggal mandi. kubiarkan neneknya yang menangani.
pelajaran hari ini, semoga kamu mengerti ka: tak semua keinginan kita bisa kessampaian. kedisiplinan kunci mencapai kesuksesan.(*)
Sang Pencuri
: HA
mari kukisahkan
seorang lelaki muda di ujung negeri
gemar mencuri
tapi malah dipuji
hasan, hasan
begitu orang mengelunya
kemudaannya memedarkan kedalaman
hasan, hasan
ia mencuri ide dari mana mana
lalu membawanya pulang
yang punya tak merasa kehilangan
ia gores poles curian itu
menjadi senandung:
lebih indah
lebih menyentuh
hasan, hasan (*)
mari kukisahkan
seorang lelaki muda di ujung negeri
gemar mencuri
tapi malah dipuji
hasan, hasan
begitu orang mengelunya
kemudaannya memedarkan kedalaman
hasan, hasan
ia mencuri ide dari mana mana
lalu membawanya pulang
yang punya tak merasa kehilangan
ia gores poles curian itu
menjadi senandung:
lebih indah
lebih menyentuh
hasan, hasan (*)
Tidur
tidurmu taman mimpi: indah, sentosa
tak sadar diam-diam
Kemarin bersijingkat pergi
tinggalkan bayang-bayang
yang kian mengabur dalam benakmu
saat Esok mengusir mimpi
tidurmu abadi
saat Kemarin pergi
dan esok tua jua datang(*)
tak sadar diam-diam
Kemarin bersijingkat pergi
tinggalkan bayang-bayang
yang kian mengabur dalam benakmu
saat Esok mengusir mimpi
tidurmu abadi
saat Kemarin pergi
dan esok tua jua datang(*)
Taman Penyair
Meski sama memuja kata
taman ini memiliki
sosok yang rupa-rupa
bahkan tak ada dua yang serupa
ada yang seperti nabi
menorehkan dengan misi suci
hidup pun harus lurus
bahkan ia ciptakan
sederet janji untuk ditepati
ada yang berkarya dengan gemilang
tapi hatinya penuh api
ia membentuk kubu:
dirinya dan segala yang di pihak lain
tak segan ia mencaci
tak sungkan membenci
sekali menyebrang, musuh selamanya
ada juga yang menjadi mata air
karya mengalir tiada henti
sejam sekali, semenit sekali
hanya anaknya lantas merana
tak terurus tak ada yang baca
juga ada yang nemilih kedalaman
setiap kata adalah perenungan
seminggu satu karya sudah bagus untuknya
ada yang pandai mencuri
menyerap ide dengan ksatria
lalu menggores karya membelalakan mata
di sebrang laut seorang muda taruna
memiliki bekal lengkap
semangat tak pernah sirna
ratusan sudah ditorehkan
orang kian mengangkat topi
di pojokan sini
ada aku, mungkin dengan beberapa lain
menggores asa-asalan
benak terus disesaki keraguan:
sudahkah ini puisi?(*)
taman ini memiliki
sosok yang rupa-rupa
bahkan tak ada dua yang serupa
ada yang seperti nabi
menorehkan dengan misi suci
hidup pun harus lurus
bahkan ia ciptakan
sederet janji untuk ditepati
ada yang berkarya dengan gemilang
tapi hatinya penuh api
ia membentuk kubu:
dirinya dan segala yang di pihak lain
tak segan ia mencaci
tak sungkan membenci
sekali menyebrang, musuh selamanya
ada juga yang menjadi mata air
karya mengalir tiada henti
sejam sekali, semenit sekali
hanya anaknya lantas merana
tak terurus tak ada yang baca
juga ada yang nemilih kedalaman
setiap kata adalah perenungan
seminggu satu karya sudah bagus untuknya
ada yang pandai mencuri
menyerap ide dengan ksatria
lalu menggores karya membelalakan mata
di sebrang laut seorang muda taruna
memiliki bekal lengkap
semangat tak pernah sirna
ratusan sudah ditorehkan
orang kian mengangkat topi
di pojokan sini
ada aku, mungkin dengan beberapa lain
menggores asa-asalan
benak terus disesaki keraguan:
sudahkah ini puisi?(*)
14 April 2009
Sajak Pelacur
akulah hamparan gersang tak berkesudahan
selalu tandus, mimpikan embun
oaseku mejelmu madu
persinggahan siapa saja
para lebah pengelana berbaris
setiap hari: bergantin menunggu giliran
mereka reguki inci demi inci tubuh ini
mereka sesapi halai demi helai kemudaan ini
semua leluasa
datang dengan serangai nafsu
lalu pergi dengan wajah kuyup
akulah padang gurun itu
kian hari, kian kehilangan semak harapan(*)
selalu tandus, mimpikan embun
oaseku mejelmu madu
persinggahan siapa saja
para lebah pengelana berbaris
setiap hari: bergantin menunggu giliran
mereka reguki inci demi inci tubuh ini
mereka sesapi halai demi helai kemudaan ini
semua leluasa
datang dengan serangai nafsu
lalu pergi dengan wajah kuyup
akulah padang gurun itu
kian hari, kian kehilangan semak harapan(*)
Dari film: Silk
perasaan yang bergejolak
dalam belaian tangannya yang halus dan ahli geisha itu
membawamu pikiranmu berkelana:
menunggang kuda melewati bebukitan bersalju
terombang-ambing disamudra lepas
asmara terlarang di sunyi pegunungan jepang
memelukmu bagai hantu
tak lepas-lepas,
bahkan saat kau kembali ke pelukan istri terkasih
matamu tak juga kuasa mengusir
bayang-bayang merangsang:
bidadari bermata bening
telanjang, hanya kepala di muka air
telur-telur sutra berharga selaksa
membawamu menyebrangi samudra luas dan mengancam
menuntunmu ke haribaan cintanya
cinta yang sunyi, tapi menggelora
tapi kau lantas melihat akhir pedih:
istri sekarat dan berlalu
bayang2 jauh itu tak lebih halusinasi
yang memainkan pikiran dan kerinduanmu
dan di taman itu, yang kau bangun bersama istrimu
kau termangu murung
keindahan yang dulu niscaya
tak tersisa barang secercah(*)
dalam belaian tangannya yang halus dan ahli geisha itu
membawamu pikiranmu berkelana:
menunggang kuda melewati bebukitan bersalju
terombang-ambing disamudra lepas
asmara terlarang di sunyi pegunungan jepang
memelukmu bagai hantu
tak lepas-lepas,
bahkan saat kau kembali ke pelukan istri terkasih
matamu tak juga kuasa mengusir
bayang-bayang merangsang:
bidadari bermata bening
telanjang, hanya kepala di muka air
telur-telur sutra berharga selaksa
membawamu menyebrangi samudra luas dan mengancam
menuntunmu ke haribaan cintanya
cinta yang sunyi, tapi menggelora
tapi kau lantas melihat akhir pedih:
istri sekarat dan berlalu
bayang2 jauh itu tak lebih halusinasi
yang memainkan pikiran dan kerinduanmu
dan di taman itu, yang kau bangun bersama istrimu
kau termangu murung
keindahan yang dulu niscaya
tak tersisa barang secercah(*)
10 April 2009
GM Suatu Hari
angin meniu niup kian kencang
dari barat, timur, dan segala arah
ada yang keras, ada yang pedas
dan kau pun takjub
"bukankah yang terbaik sudah digoreskan,
dengan niat baik yang kental"
dunia pada akhirnya memang sebuah
keliaran yang tak mungkin ditaklukkan
manusia berharap, kenyataan kerap menikam
kau pun tahu itu, barangkali
hingga kau pilih menutup telinga
dan terus melangkah
menyusuri puncak berpemandangan lapang
tapi pada sosokmu
aku belajar, hari ini
bahwa tiada yang sempurna
tiada dewa menjelma manusia
di dunia ini(*)
dari barat, timur, dan segala arah
ada yang keras, ada yang pedas
dan kau pun takjub
"bukankah yang terbaik sudah digoreskan,
dengan niat baik yang kental"
dunia pada akhirnya memang sebuah
keliaran yang tak mungkin ditaklukkan
manusia berharap, kenyataan kerap menikam
kau pun tahu itu, barangkali
hingga kau pilih menutup telinga
dan terus melangkah
menyusuri puncak berpemandangan lapang
tapi pada sosokmu
aku belajar, hari ini
bahwa tiada yang sempurna
tiada dewa menjelma manusia
di dunia ini(*)
08 April 2009
Fragmen: Cinta Melihat Hakikat
cinta akhirnya membuatmu jadi pemenang. melumerkan kekesalan dan rasa jengkel yang dulu pernah mebuncah. kau merasa serba ada. di dirimu ada segala kemampuan untuk menjadi paripurna: kecakapan, kemauan dan kecepatan belajar, ketelatenan. bukankah itu rumus menunju sukses?
tapi kau sempat kecewa, karena cinta. kau lihat sahabatmu yang mengesalkan: malas, tak berkemampuan, miskin. tapi ia akhirnya yang terpilih. oleh ia yang jadi rebutan, bunga komplek rebutan semua kumbang. alasannya kau bisa menduga: karena ia lebih tampan.
ah, itu yang membuatmu kecewa. dunia pada akhirnya diukur fisik. semua kedalaman jiwa itu diabaikan total.
tapi kau juga sempat meraba dada. jangan-jangan salah menarik simpul. sahabatmu tetpilih mungkin karena ia ditemukan cinta. lalu kau pun memilih tenggelam. dalam kesibukan-kesibukan tak bertepi. semua kau coba, kau susuri
segala kerja, segala peluang.
hingga kau temukan tempatmu. dan anak majikanmu yang semula acuh
akhirnya melihat kualitas kedalamanmu. ia tak peduli pada rupamu
lalu kalian pun melangkah bahagia.
dan kau berkali meminta maaf pada Yang Atas. kau kini bisa menyimpulkan: cinta akan melihat hakikat(*)
tapi kau sempat kecewa, karena cinta. kau lihat sahabatmu yang mengesalkan: malas, tak berkemampuan, miskin. tapi ia akhirnya yang terpilih. oleh ia yang jadi rebutan, bunga komplek rebutan semua kumbang. alasannya kau bisa menduga: karena ia lebih tampan.
ah, itu yang membuatmu kecewa. dunia pada akhirnya diukur fisik. semua kedalaman jiwa itu diabaikan total.
tapi kau juga sempat meraba dada. jangan-jangan salah menarik simpul. sahabatmu tetpilih mungkin karena ia ditemukan cinta. lalu kau pun memilih tenggelam. dalam kesibukan-kesibukan tak bertepi. semua kau coba, kau susuri
segala kerja, segala peluang.
hingga kau temukan tempatmu. dan anak majikanmu yang semula acuh
akhirnya melihat kualitas kedalamanmu. ia tak peduli pada rupamu
lalu kalian pun melangkah bahagia.
dan kau berkali meminta maaf pada Yang Atas. kau kini bisa menyimpulkan: cinta akan melihat hakikat(*)
Buat Dede dan kaka
rasa berdosa tak henti memburu
tiap kutatap kalian: kekurangan-kekurangan itu
ah, sungguh aku tak sengaja
membuat kalian begitu
sebagai ayah aku mau
yang terbaik buat kalian
tapi mungkin sedikit
alfa dan keteledoran
telah membuat kalian begitu
dan akan mebuat kalian
merana sepanjang hidup
ah, maafkanlah nak...(*)
tiap kutatap kalian: kekurangan-kekurangan itu
ah, sungguh aku tak sengaja
membuat kalian begitu
sebagai ayah aku mau
yang terbaik buat kalian
tapi mungkin sedikit
alfa dan keteledoran
telah membuat kalian begitu
dan akan mebuat kalian
merana sepanjang hidup
ah, maafkanlah nak...(*)
Langganan:
Postingan (Atom)