akulah musafir sejati
terlunta-lunta menapak jejakmu
yang dengan cepat selalu berkelok-kelok
seperti menghindar-hindar
akulah sahaya
yang memendam kekaguman
kepada seorang tuannya
kaulah itu
sudah berapa lama?
satu, dua, tiga
tahun-tahun seperti berlari
menyampirkan lelah
ke badanku dan hatiku
yang kian kerontang
lalu akupun selamanya
jadi sinta pendosa
selalu mendambamu
saat dilimpahi kasih
tak berbilang dari sang rama
o.. angin
o.. waktu
kapankah semua ini berakhir?
kuberharap
suatu saat bisa menatapmu
dengan damai
tanpa gejolak cinta dan napsu
yang bertahun terpendam
o..(*)
19 Oktober 2009
Renungan Setengah Jalan II
hampir separuh jalan
napas sudah ngos-ngosan
terasa berat kaki dibawa
gundah dan kecewa bebani dada
ah, ini bukan mimpi yang dulu
yang kureka-reka sebagai
sorga dunia
ini hanyalah ladang pertarungan
tanpa akhir
melawan ego
kecemasan
dan kekecewaan tak berkesudahan
setelah setengah jalan
aku hampir kalah
tapi masih terus berusaha melangkah
sambil berharap
cahaya akan tiba
tuk lebih terangi jalanku(*)
napas sudah ngos-ngosan
terasa berat kaki dibawa
gundah dan kecewa bebani dada
ah, ini bukan mimpi yang dulu
yang kureka-reka sebagai
sorga dunia
ini hanyalah ladang pertarungan
tanpa akhir
melawan ego
kecemasan
dan kekecewaan tak berkesudahan
setelah setengah jalan
aku hampir kalah
tapi masih terus berusaha melangkah
sambil berharap
cahaya akan tiba
tuk lebih terangi jalanku(*)
Lidah
suatu hari terpetik lah pelajaran berharga
tentang lidah setajam pedang
yang sudah jadi buah bibir dunia
tapi aku baru merasanya malam itu
saat istri merengut di pojok dapur
dia protes atas komentarku tadi siang
sebelum berangkat kerja
"memang komentar apa sih?
kok sampai diomongin pedas begitu?"
aku melongo
komentar apa?
bukankah hanya soal pohon tetangga
yang menjulang angkasa
kukatakan layak ditebang karena
sudah mengangkangi kabel listrik
aku enteng saja berkata begitu
karena sudah merasa dekat dengan
tetanggaku itu
rupaanya setelah pergi
muncul komentar pedas entah dari siapa
kenapa harus urusi rumah orang?
rumah sendiri saja tak karuan.
ya ampun
lagi-lagi lidahku
kata-kata yang kuanggap biasa saja
ternyata bisa jadi belati
yang menyakiti sesiapa
tampaknya,
sudah saatnya kata lebih dijaga(*)
tentang lidah setajam pedang
yang sudah jadi buah bibir dunia
tapi aku baru merasanya malam itu
saat istri merengut di pojok dapur
dia protes atas komentarku tadi siang
sebelum berangkat kerja
"memang komentar apa sih?
kok sampai diomongin pedas begitu?"
aku melongo
komentar apa?
bukankah hanya soal pohon tetangga
yang menjulang angkasa
kukatakan layak ditebang karena
sudah mengangkangi kabel listrik
aku enteng saja berkata begitu
karena sudah merasa dekat dengan
tetanggaku itu
rupaanya setelah pergi
muncul komentar pedas entah dari siapa
kenapa harus urusi rumah orang?
rumah sendiri saja tak karuan.
ya ampun
lagi-lagi lidahku
kata-kata yang kuanggap biasa saja
ternyata bisa jadi belati
yang menyakiti sesiapa
tampaknya,
sudah saatnya kata lebih dijaga(*)
18 Oktober 2009
Renungan Setengah Jalan
JALAN berliku, berdebu
kubelokkan langkah
mendinginkan kepala di rimbun pepohonan
terduduk sambil menatap ke belakang
ah, jalan panjang sudah dipijak
penuh onak
penuh luka
dibumbui sedikit bahagia
teringat tadi
hati sempat geram
nyaris memutuskan menyembal
mencari jalan lain
tapi lalu muncul dua pasang
mata bening
menatap bertanya-tanya
aku tak bahagia
tapi mungkin ini hanya rasa yang dibikin sendiri
oleh pengharapan berlebih
keinginan tanpa akhir
seandainya lebih sederhana
dan membiarkan segala
menyandang kelemahannya
mungkin akan bahagia(*)
kubelokkan langkah
mendinginkan kepala di rimbun pepohonan
terduduk sambil menatap ke belakang
ah, jalan panjang sudah dipijak
penuh onak
penuh luka
dibumbui sedikit bahagia
teringat tadi
hati sempat geram
nyaris memutuskan menyembal
mencari jalan lain
tapi lalu muncul dua pasang
mata bening
menatap bertanya-tanya
aku tak bahagia
tapi mungkin ini hanya rasa yang dibikin sendiri
oleh pengharapan berlebih
keinginan tanpa akhir
seandainya lebih sederhana
dan membiarkan segala
menyandang kelemahannya
mungkin akan bahagia(*)
13 Oktober 2009
Puisi di Rubrik Oase Kompas (2 Oktober)
Karya Nurdin Saleh
Jumat, 2 Oktober 2009 | 20:50 WIB
Setelah Lama di Jakarta
KULIHAT bocah lusuh melolong
dalam deras hujan di depan mall
lelaki berpayung di sampingnya
berusaha menarik-narik tangannya
sempat kuhentikan langkahku
cetus itu pun mengusik hati:
mungkinkah ini penculikan
untuk dijadikan anak jalanan?
kusua pria setengah baya
menyapa dengan manis budi
sangat akrab serasa sahabat lama
aku membalasnya dengan ragu
syak itu menyelip mengganggu
mungkinkah ia pura-pura baik
karena ada maunya?
dalam penantian mengesalkan
di hadapan birokrasi
silih berganti tamu elegan bertas besar
datangi kepala bagian
curiga pun menyapa:
jangan-jangan tas itu penuh
amplop sogokan untuk melicinkan proyek?
seorang tetangga mendadak sentosa
membangun rumah seperti tak peduli biaya
aku pun menjawil istri:
paling ia korupsi
mana mungkin seorang pegawai negeri mampu begitu?
setelah bertahun di kota ini
hari berganti, wasangka justru menjadi-jadi(*)
Pamulang, April 2009
Pemetik Abadi
PERGI lagi ke firdaus itu
memetik bunga-bunga kata
seindah melati, mawar, dan rupa-rupa
kucecap kuhirup pesona senandung pujangga
lalu kupulang menggenggam tekad seluas angkasa
kukan tumbuhkan bunga-bunga serupa
di taman sendiri
tapi ah, apalah dayaku: tak ada benih, tiada rabuk
harapan pun menjelma hampa
dan aku hanya akan terus kembali
ke taman itu: menjadi penikmat, pemetik abadi(*)
Pamulang, Mei 2009
Memaknai Hari
BAGAIMANA harus memaknainya
gundah dan bahgia bergulat
begitu mesra
tak henti berebut ruang hati
yang tak lagi lapang
jarum jam seperti diputar balik
adegan diulang-ulang
kembali ke titik-titik itu jua
hari ini tak beda kemarin:
dapur, ruang tengah, mall
dan setumpuk resah dan gundah
waktu tampaknya hanya berhasil memeta
pada sosok buah hati kita
kian hari kian beranjak
serupa insan dewasa:
membesarkan ego, haus sanjung puja
tapi derap waktu
tlah gagal mengubahmu
kau masih jinak-jinak merpati
seperti tunduk patuh sepenuh hati
tapi lantas mengulang-ulang
hal kecil itu
yang lanas membunuh sisa hariku
bagaimana memaknai hari ini
saat harap berujung kecewa
lalu kejutan kecil
kembali kobarkan asa(*)
Pamulang, April 2009
Cinta Yang Kucurahkan
: rpa dan lda
SATU waktu aku pasti merindumu
ketika angin rintih
menyapa senja di balkon sunyi
bibirku mungkin terus lapalkan asmamu
batinku tak henti melukis bayang indahmu
pasti kuingat semua
saat-saat kebersaam kita
hari ini dan kemarin:
tawa yang ceria
isak yang duka
manja yang luar biasa
saat itu aku mungkin sudah di ambang pintu
bermandi uban dipayungi
matahari kekuningan nyaris keperaduan
aku sendiri, tapi tak kesepian
selalu ada engkau
yang kubayang-bayangkan
kuduga-duga polah lagakmu
sudah pasti aku merindumu
juga akan kehilanganmu
tapi pasti kulepas kau
dengan lega dan rela
menjadi burung yang mencari bebas
atau air yang menyusuri takdir
karna kuyakin sekali
hari ini dan kemarin
karena telah kucurahkan cintaku
yang paling sempurna(*)
Pamulang, Mei 2009
(Nurdin Saleh, Jurnalis, kini tinggal di Pamulang. Masih membaca novel dengan penuh hasrat, tapi kian kesulitan merampungkan tiap cerita pendek yang dibacanya. Di sela kesibukan yang kian menekan makin yakin ba
23 Agustus 2009
Kenapa Kamu, De?
dede menjerit jerit
menjawil-jawil sang gundah
lalu mengajaknya masuk
ke dalam hati
: kenapa kamu de?
lagakmu sungguh susah dimengerti
tadi manis
sekarang membuat ayah meringis
begitu cepat berubah
begitu gampang berganti
kenapa kamu, De?
menjawil-jawil sang gundah
lalu mengajaknya masuk
ke dalam hati
: kenapa kamu de?
lagakmu sungguh susah dimengerti
tadi manis
sekarang membuat ayah meringis
begitu cepat berubah
begitu gampang berganti
kenapa kamu, De?
17 Agustus 2009
Renungan 37 Tahun
kaki terus melangkah
satu demi satu saja
tapi waktu
begitu cepat mengiringnya
sudah sejauh 37 tahun kini
uban pun sudah muncul satusatu
tapi sudah dimanakah?
mendadak kabut memenuhi kepala
mengilangkan gambar peta
dan arah mata angin
sungguh, aku tak tahu dimana
yang jelas
kerap mencuat sesal
gerah dan kecewa
sepertinya titik ini
tak pernah ada dalam anganangan dulu
tapi, setelah 37 tahun
anganangan seperti itu bahkan
tak lagi kerap muncul
kutekan keras hingga tandas
kutakut angan itu
dianggap undangan
buat tangantangan kekecewaan
setelah 37 tahun
serasa sudah diakhir
yang menyesakkan(*)
satu demi satu saja
tapi waktu
begitu cepat mengiringnya
sudah sejauh 37 tahun kini
uban pun sudah muncul satusatu
tapi sudah dimanakah?
mendadak kabut memenuhi kepala
mengilangkan gambar peta
dan arah mata angin
sungguh, aku tak tahu dimana
yang jelas
kerap mencuat sesal
gerah dan kecewa
sepertinya titik ini
tak pernah ada dalam anganangan dulu
tapi, setelah 37 tahun
anganangan seperti itu bahkan
tak lagi kerap muncul
kutekan keras hingga tandas
kutakut angan itu
dianggap undangan
buat tangantangan kekecewaan
setelah 37 tahun
serasa sudah diakhir
yang menyesakkan(*)
Merdeka
pekik menggelora
hymne gegap gempita
serta kibar merahputih
hanya kulihat lamatlamat
di layar kaca
sambil tiduran di ruang tengah
oh, ku bisa terus
melakukannya dengan leluasa
karena kini serba merdeka
jadi mari pekik bersama: merdeka!!!!(*)
hymne gegap gempita
serta kibar merahputih
hanya kulihat lamatlamat
di layar kaca
sambil tiduran di ruang tengah
oh, ku bisa terus
melakukannya dengan leluasa
karena kini serba merdeka
jadi mari pekik bersama: merdeka!!!!(*)
14 Agustus 2009
Dihantui Bayang
bayangbayang
tak terusik
terus melekat erat
mengikuti kemana ku melangkah
berganti ganti setiap kali
terpicu apa lantas beda
bayangbayang jadi pelarian
karena indah, karena tiada tekanan
sedang hidup ini
begitu terbatas dan banyak masalah
bayangbayang
membayang
menandai hidup yang kian
tak sempurna
dan kecewa(*)
tak terusik
terus melekat erat
mengikuti kemana ku melangkah
berganti ganti setiap kali
terpicu apa lantas beda
bayangbayang jadi pelarian
karena indah, karena tiada tekanan
sedang hidup ini
begitu terbatas dan banyak masalah
bayangbayang
membayang
menandai hidup yang kian
tak sempurna
dan kecewa(*)
Sajak Segelas Kopi
segelas kopi yang tandas
tersisa ampas dan jantung yang dipalu debar
nanar di depan layar
hurup hurup berkeliaran
menyusun katakata
yang berbaris
berebutan masuki kepala
menjadi kisah kisah
berloncatan tak karuan
kuteringat kau
mengapa ada harap
yang langsung terampas
dan kata itu yang tak juga lepas
: janganjangan kita telah salah memilih?
kuteringat juga mereka
dua mungil penuh ceria dan nakal
: akan jadi apa mereka
bila kita harus berakhir?
gelas kopi tandas di pojok meja
cawan hati tanpa rasa di pojok dada
di luar sore berlarian dikejar malam
suaranya berderap
menularkan resah dan sepi
aduh....(*)
tersisa ampas dan jantung yang dipalu debar
nanar di depan layar
hurup hurup berkeliaran
menyusun katakata
yang berbaris
berebutan masuki kepala
menjadi kisah kisah
berloncatan tak karuan
kuteringat kau
mengapa ada harap
yang langsung terampas
dan kata itu yang tak juga lepas
: janganjangan kita telah salah memilih?
kuteringat juga mereka
dua mungil penuh ceria dan nakal
: akan jadi apa mereka
bila kita harus berakhir?
gelas kopi tandas di pojok meja
cawan hati tanpa rasa di pojok dada
di luar sore berlarian dikejar malam
suaranya berderap
menularkan resah dan sepi
aduh....(*)
Langganan:
Postingan (Atom)