01 Januari 2010

Kau Sang Asa Yang Berkepingan

kau mungkin bermimpi jadi bidadari
disanjung puji setiap hari
padahal aku hanya lelaki
egois yang terus menghitung
ruas-ruas kekecewaan
yang silih berganti mendatangi
maka aku pun terdiam
mulut kelu
mata sayu
dan kau
dari sudut kamar
menatap penuh sesal
dan aih,
apakah itu yang berkecemuk di kepalamu?
angan-angan yang berkhianat
atau
asa yang berkepingan(*)

Nisan Hati

aku harus bersiap
mencari nisan
untuk menguburkan hatiku
yang kian beku:
tiada harap, tak ada lagi kecewa

di tahun baru aku pun
akan menjelma mayat
berjalan tanpa api
tanpa persaaan
hanya melangkah
menuju titik akhir
yang kian keras
terendus aromanya(*)

15 Desember 2009

Bercinta Tanpa Kata

ini hanyalah malam yang sama
kau mengelusku, memberi isyarat
lalu kita bercinta:
penuh keringat, tanpa sepatah kata

apakah cinta kita sudah
begitu saling memahami
hingga tak perlu
lagi segala kata-kata?
ataukah kita tengah berpacu
menuju kesunyian
yang hampa?

malam nanti kau mungkin datang lagi
ke kamarku
mengelus ini dan itu
meminta
aku mungkin akan coba
berkata-kata
mengucap sepatah dua puji dan rayu
agar cinta kita
tak mati kesepian(*)

09 Desember 2009

Meneropong Masa Depan Belahan Jiwaku

termangu menatapmu
dua belahan jiwaku
pagi yang heboh:
berkeras menolak mandi
dan makan
kalau tidak lantas jalan-jalan
siang yang gerah:
diwarnai tangis kalian
yang tetap menolak dipaksa
memakai celana
malam yang berisik:
dede terus saja merengek
meminta nenek
tetap duduk saat menemaninya bobo

ah, padahal kalian baru
sejenak menemani
baru dua atau tiga langkah saja
tapi sudah kulihat gambaran
masa depan itu:
kalian menempuh jalan sendiri
meski kupaksa memilih
yang kumau

anak, kata pujangga itu
memang serupa anak panah
kita hanya berhak mengarahkannya
setelah lepas dari busur
ia adalah milik dirinya sendiri
ia memiliki peruntungannya sendiri

bulan depan
kalian akan genap tiga tahun
tapi sungguh sudah banyak
yang kurasa bersama kalian
kembar belahan jiwaku(*)

16 November 2009

Hari Hari ini

hari hari yang nyaman
pikiran tanpa beban

anak anak silih berganti
menceriakan hari

kau pun lebih tenang
menekuni segala tugas
tanpa terpalingkan
kehendak berlebihan

hari hari yang sentosa
melaju kencang tak terkira
tak terasa semua berlalu
cepat belaka(*)

11 November 2009

Terlalu Banyak Pikiran

ketika melihatmu
bicara tenang
seperti sudah latihan berulang-ulang
benakku justru diserbu
segala adegan bioskop itu:
lelaki lelaki setengah baya
menghalalkan cara
demi menjejak kaki
di temmpat tinggi
angin menghembusnya
dari kiri kanan
meruapkan berbagai aroma
sekongkol dan kebusukan

melihat mereka
berlomba tebar pesona
di depan pejabat yang dipanggilnya
pikiran jadi teraduk
beraneka kecemuk:
seorang wakil bukankah tak boleh
buta dan harus bertelinga tajam
seorang wakil bukankah tak boleh bermuka tebal?

menyaksikan
mereka duduk sambil
mengudar prestasi hari itu
hati tetap syak:
tidakkah mereka semua
hanya buaya
yang mementikan isi saku belaka?(*)

Mencari Puisi

kucari dia di tikungan remang
tak mengharapkan ia
berpupur tebal dan bergincu mencolok
justru aku menduga teduh:
sosok lembut, renyah, bertutur runtun

kucari ia di lekuk ceruk
mungkin tengah terbaring
atau jongkok mengangkang
tapi sebenarnya kuharap dia
kokoh: berdiri gagah
menyuarakan percik percik
permenungan mendalam

kucari diterang siang
dan remang malam
di balik benda dan sudut-sudut sempit
kucari
tapi tak ada
hanya ada jejak semangat
yang ditinggal kata-kata
indah memikat(*)

Lebih Baik Buta-Tuli

mungkin lebih baik
menjadi buta tuli
agar tak mengetahui
semua busuk itu
yang diumbar setiap saat
di layar kaca
yang membuat kita terpana
dan geleng kepala:
seburuk itukah sudah

ya,
memang sempat ada
harapan yang mampir
saat semua peduli
lalu angin mengalir
dari puncak gunung
tapi, jelas salah
sangat salah
untuk memiliki harapan
seperti itu
di tanah yang sudah
membusuk ini

jadi,
mari kita bersama
memilih membutakan mata
menulikan telinga
agar tak tahu
akan segala buruk
dan busuk itu
sambil berdoa
semoga kita tak harus
berurusan dengan
tikut dan buaya itu

jadi,
mari kita tidur
sambil menggumamkan
puisi tentang cinta
atau sajak tentang angin
yang membawa kabar rindu(*)

10 November 2009

Tentang Degup Bertalu

ada degup bertalu
mengirngi sore hari kerja
yang lumayan sibuk
apakah ini?
pertandakah?
sekedar mekanisme
tubuh biasa
atau badan yang sudah
lebih seksama membaca tanda?

ada degup bertalu
membuatku tak nyaman
apakah ini?
sekedar jelma kecewa
yang sedikit demi sedikit
menghampiri
atau tentang sesuatu
yang lebih besar?(*)

06 November 2009

Untuk Kau Yang Menangis Malam-Malam

tuan, maafkan kami
tak lagi tergerak
melihat air mata
meleleh di sudut matamu

kami terlalu lelah
dibisiki dongeng buaya serakah
terus berlomba mengakali
aturan dan keadilan
untuk menggelembungkan isi saku

maafkan ya, tuan
kami tak lagi yakin
ada buaya putih di kolam keruh
karena kami lihat
kalian begitu bergelimang harta
begitu bermandi sentosa
saat kami tahu
berapa harusnya isi saku itu

tuan, harap kau tak kecewa
kami kini tak lagi percaya
bila kau bilang tidak,
kami duga iya
Saat kau bilang bersih,
kami yakin berlumur lumpur

kami tahu lidahmu lentur
terbiasa menenun kata penarik simpati
tapi maaf saja
rayuan itu bukan buat kami
hati hati kini sudah membatu
setelah terus dilewati kalian
yang tak henti menginjak-injak
keadilan kami(*)