17 Mei 2015

Lelah

AKU letih menapaki takdirku
menyusuri tepian cahaya gemerlap
seraya menindas rasa tak puas
dan menenggelamkan  rasa lelah
agar bisa  mengecap setitik
sentosa dan merdu bujuk rayumu

aku bosan meniti
menit demi menit yang
seperti diulang-ulang
hidup yang hanya berputar
laksana tik-tok jarum jam
tanpa kelokan tanpa kejutan

aku adalah beribu
hasrat dan lamunan yang
bergulat seharian dan semalaman
bercakap-cakap dalam benak
saat kaki melangkah menunaikan
kerja yang kian menekan pundak

aku adalah debu
di pinggiran belantara cahaya gempita
hati bercucur pilu
setiap waktu merindukan
damai masa lalu
dan hasrat yang berhamburan
bersama waktu yang terus beranjak(*)

Di Padang Luas

PADA padang luas ini
maut hanya masa lalu
akhir dari sederet episode
kelabu: dipenuhi catatan
gelora nafsu dan alfa diri

di penghakiman ini
mengurai benang masa lalu
menimbang hitam dan putih
catatan langkah demi lengkah
niscaya perih menyileti diri

vonis yang akan tiba
sudah terduga: murka Pencipta
karena lembar demi lembar
hidup hanya
berisi pesta pora dan sia-sia(*)

24 April 2015

Hari terakhir

Ini malam terakhir di velbak. Mulai besok, kantor akan boyongan ke palmerah, ke kantor baru.
Banyak kenangan akan ditinggalkan di sini. Selama belasan tahun bergulat setiap hari mengacap pahit, manis, suntuk, dan semangat yang naik turun.


Image result for kantor tempo velbak



Image result for kantor koran tempo velbak


Image result for kantor koran tempo velbak






18 April 2015

Pergulatan benak

Minggu kembali berlalu. Apa yang sudah dilakukan? Sama saja. Hanya mengulang  bait-bait yang itu-itu juga.

Seorang motivator mungkin akan berkata: saatnya berubah. Tapi apanya yang diubah. Segala gerak baru dibebani risau dan malas. Hasrat liar pun hanya bergejolak dalam hati.

Kalau melihat ke belakang, mungkin akan kecewa. Ibarat memandang lukisan dengan sapuan kurang tegas. Penuh keraguan, banyak penghindaran. Tahu apa yang kurang, tapi tetap tak paham memperbaikinya.

Teringat coretan puisi selulus kuliah dulu. Tentang bintang di langit dan ketertinggalan. Kini rasanya mulai mewujud semua. Menusukkan meriang ke sekujur badan.

Kadang muncul kilasan pikiran. Langkah sudah di ujung. Cukup terus bergerak dengan ritme sekarang. Tapi ada pula kesadaran soal perlunya memegang idealisme. Berikhtiar dengan asumsi hidup masih seribu tahun lagi.

Hari terus berganti. Pergulatan ingin,  kecewa, ragu, dan harap tak juga usai. Dan waktu beranjak tanpa banyak menorehkan jejak.(*)


16 April 2015

Danau Cahaya

kan kuajak kau
ke danau itu
sore hari: saat matahari keemasan
memantul di muka air

lalu kita duduk bersisian
dalam bisu
memandang keajaiban di depan mata
: ini surga (*)

Lake Wanaka, New ZealandAndre Distel

13 April 2015

Menulis = Pengorbanan

Sebuah tulisan, apalagi yang panjang seperti buku, pastilah hasil dari sederet pengorbanan. Ada malas dan kantuk yg dibunuh. Ada hasrat meneguk kesenangan yang ditekan. Ada disiplin tak berkesudahan.

Semua itu justru tak mau hadir di diriku. Aku lebih suka menghabiskan waktu di depan televisi, atau berselancar di dunia maya.

Mungkin juga karena tak tahu pasti mau menulis apa dan buat apa. Menulis tanpa arah juga rasanya tak berguna.

Jadi memang ada dua masalah di sini: menetapkan tujuan dan mengukuhkan motivasi.(*)

Dee

Ketika membaca kita kadang menemukan "warna" penulisnya dengan gampang. Kita mengikuti kata demi kata dengan kesadaran "oh, ini dia banget" sambil membayangkan sosok penulisnya.

Ketika membaca buku dewi "dee" lestari saya tak bisa melakukan itu. Saat membaca supernova hingga gelombang, saya bahkan kerap takjub: benarkah karya ini lahir dari tangan seorang penyanyi?

Lembar demi lembar dalam bukunya menyihir. Alami. Punya daya pikat yang membuat kita enggan beranjak.

Ia salah satu pengarang favorit saya.(*)

11 April 2015

The mentalist

Mungkin karena kita mendamba kehebatan
Di diri kita: seperti patrick jane
Menghadapi kesulitan dengan tersenyum
Menyelesaikan tantangan dengan solusi berbeda: sederhana tapi cerdas dan mencengangkan

Mungkin karena kita hidup dalam rimba masalah tak sudahsudah

Maka kita cinta patrik jane
Lelaki tampan nan nyentrik
Menyelesaikan tekateki pembunuhan
Dengan jalan memutar tak terduga

Dan ia, patrick jane
menikmati tantangan itu
dengan tetap berjarak: "aku cinta telur ceplok, tapi bukan berarti aku mendedikasikan diri untuknya dan menutup pintu untuk makanan lain"



10 April 2015

Jurnalis

Dari deadline ke deadline
Memelihara tenaga, semangat, dan konsistensi

Semua alangkah singkat
Puji atau caci
Hanya sekejap tersampir
hingga berita baru muncul
Hingga karya baru lahir

Segala amatlah nisbi
kehebatan hari ini
Bisa berubah nestapa
di hari esok: saat kenyataan baru
Datang mencubit

Hari ke hari
Tenggelam dalam tantangan
Yang menjelma rutinitas melenakan dan melelahkan
berusaha terus melangkah
membunuhi kecewa
menyiangi gulmagulma
Memelihara asa

Waktu ke waktu
Terus berpacu
sambil meyakinkan hati
Ini hidupku
Dan ini berarti(*)

08 April 2015

Tanjakan

Hidup kadang seperti ini:
Menanjak, curam, berdebu
Tak nyaman

Episode yang niscaya ada
Setelah jalan datar, turunan, dan kemudahan

Usahlah menangis dan  balik langkah
Sesekali menghela napas atau mengeluh tak apa
Tapi tetap jejakkan kaki
Satu satu
Setindak demi setindak
Sambil berbisik: akan ada akhir baik di ujung langkah
Sambil tanamkan yakin: ada buah manis dari segala sabar ini (*)