29 November 2015

House of sand and fog

Jalan kita disatukan garis derita dan
Sengsara tak berkesudahan

Kedukaan lalu melukai kemanusiaan
Menyemai benih benci dan rasis:
Karena asing kau harus kalah

Tapi tak ada kemenangan sempurna
Yang bisa dibangun batu bata kecurangan
Disemen tipu daya

Maka semua berujung nestapa
Tenggelam dalam kubangan air mata dan darah
Maut dan duka

22 November 2015

Dinamis atau mBunglon...

Terlalu mudah berubah
Warna di pagi hari berganti cepat di siang hari, berubah lagi di sore hari
Seperti terombang ambing di sungai deras
Tak jenak tak pernah tenang

Mimpi berlarian
Berganti seiring bisikan
Dari satu fragmen ke adegan lain

Ini dinamis
Atau bunglon tak berpendirian?

27 September 2015

Ana, 27 sept 2015

Ana bobo. Mimi lewat selang

29 Agustus 2015

Ana masih terus diuji

Usia 5 bulan, ana mulai diuji. Sakit lumayan berat: batuk ga sembuh2. Lima hari di rs permata, 2 minggu di picu rs hermina serpong, lima hari di ruang perawatan rs yg sama. Baru bisa pulang.
Tapi problem belum selesai. Batuk masih ada, susah mimi. Kasian banget. Susu pun harus lewat selang hidung (ngt).
Lebih parah diagnosa dan pengobtan awal sepertinya keliru. Bukan pneumonia, bukan pula tbc. Maka dicari seban lain. Prosesnya ribet, melelahkan, dan mahal.
Akhir juli dirawat di rscm. Empat hari untuk diendoskopi. Ngt diganti selang lewat perut.
Batuk dan grok grok madih terus. Mudah2 segera hilang. Yang jelas saat ini derita ana belum juga usai. Moga Allah cepat menyembuhkan.

17 Mei 2015

Lelah

AKU letih menapaki takdirku
menyusuri tepian cahaya gemerlap
seraya menindas rasa tak puas
dan menenggelamkan  rasa lelah
agar bisa  mengecap setitik
sentosa dan merdu bujuk rayumu

aku bosan meniti
menit demi menit yang
seperti diulang-ulang
hidup yang hanya berputar
laksana tik-tok jarum jam
tanpa kelokan tanpa kejutan

aku adalah beribu
hasrat dan lamunan yang
bergulat seharian dan semalaman
bercakap-cakap dalam benak
saat kaki melangkah menunaikan
kerja yang kian menekan pundak

aku adalah debu
di pinggiran belantara cahaya gempita
hati bercucur pilu
setiap waktu merindukan
damai masa lalu
dan hasrat yang berhamburan
bersama waktu yang terus beranjak(*)

Di Padang Luas

PADA padang luas ini
maut hanya masa lalu
akhir dari sederet episode
kelabu: dipenuhi catatan
gelora nafsu dan alfa diri

di penghakiman ini
mengurai benang masa lalu
menimbang hitam dan putih
catatan langkah demi lengkah
niscaya perih menyileti diri

vonis yang akan tiba
sudah terduga: murka Pencipta
karena lembar demi lembar
hidup hanya
berisi pesta pora dan sia-sia(*)

24 April 2015

Hari terakhir

Ini malam terakhir di velbak. Mulai besok, kantor akan boyongan ke palmerah, ke kantor baru.
Banyak kenangan akan ditinggalkan di sini. Selama belasan tahun bergulat setiap hari mengacap pahit, manis, suntuk, dan semangat yang naik turun.


Image result for kantor tempo velbak



Image result for kantor koran tempo velbak


Image result for kantor koran tempo velbak






18 April 2015

Pergulatan benak

Minggu kembali berlalu. Apa yang sudah dilakukan? Sama saja. Hanya mengulang  bait-bait yang itu-itu juga.

Seorang motivator mungkin akan berkata: saatnya berubah. Tapi apanya yang diubah. Segala gerak baru dibebani risau dan malas. Hasrat liar pun hanya bergejolak dalam hati.

Kalau melihat ke belakang, mungkin akan kecewa. Ibarat memandang lukisan dengan sapuan kurang tegas. Penuh keraguan, banyak penghindaran. Tahu apa yang kurang, tapi tetap tak paham memperbaikinya.

Teringat coretan puisi selulus kuliah dulu. Tentang bintang di langit dan ketertinggalan. Kini rasanya mulai mewujud semua. Menusukkan meriang ke sekujur badan.

Kadang muncul kilasan pikiran. Langkah sudah di ujung. Cukup terus bergerak dengan ritme sekarang. Tapi ada pula kesadaran soal perlunya memegang idealisme. Berikhtiar dengan asumsi hidup masih seribu tahun lagi.

Hari terus berganti. Pergulatan ingin,  kecewa, ragu, dan harap tak juga usai. Dan waktu beranjak tanpa banyak menorehkan jejak.(*)


16 April 2015

Danau Cahaya

kan kuajak kau
ke danau itu
sore hari: saat matahari keemasan
memantul di muka air

lalu kita duduk bersisian
dalam bisu
memandang keajaiban di depan mata
: ini surga (*)

Lake Wanaka, New ZealandAndre Distel

13 April 2015

Menulis = Pengorbanan

Sebuah tulisan, apalagi yang panjang seperti buku, pastilah hasil dari sederet pengorbanan. Ada malas dan kantuk yg dibunuh. Ada hasrat meneguk kesenangan yang ditekan. Ada disiplin tak berkesudahan.

Semua itu justru tak mau hadir di diriku. Aku lebih suka menghabiskan waktu di depan televisi, atau berselancar di dunia maya.

Mungkin juga karena tak tahu pasti mau menulis apa dan buat apa. Menulis tanpa arah juga rasanya tak berguna.

Jadi memang ada dua masalah di sini: menetapkan tujuan dan mengukuhkan motivasi.(*)