aku di negeri asing
batas batas begitu tipis
satu rasa ke rasa lain
ibarat satu kedipan mata saja
kemarahan yang memuncak
terpendam dalam diam
kebahagian yang membuncah
ternikmati dalam diam
ini negeri yang aneh
tak pernah termimpi sebelumnya
kau cemberut, kudiam
kau marah, kudiam
hanya dalam hati
berkecemuk kekecewaan
penyesalan
dan keputusasaan
tapi sesaat kemudian
semua kecemuk itu luluh
kumaafkan kau, dalam diam(*)
18 Februari 2010
16 Februari 2010
Di Ambang Senja
usia sudah nyaris tunai
tapi waktuku
hanya habis
di kamar tidur
jalanan
dan layar televisi(*)
tapi waktuku
hanya habis
di kamar tidur
jalanan
dan layar televisi(*)
15 Februari 2010
ingat usia
mengingat usia
gelisah meraja
tik tak tik tak
seperti jarum jam
umur terus beranjak
sedang langkah
masih tetap
di sini sini juga
terbersit tekad
tapi segelar terlupa
aroma tempat tidur
dan sihir layak kaca
tik tak tik tak(*)
gelisah meraja
tik tak tik tak
seperti jarum jam
umur terus beranjak
sedang langkah
masih tetap
di sini sini juga
terbersit tekad
tapi segelar terlupa
aroma tempat tidur
dan sihir layak kaca
tik tak tik tak(*)
14 Februari 2010
Kuruguk Semua
kalianlah kini segala hariku
kan kureguk utuh penuh kebersamaan kita
kaka yang lemah manja
dede yang selalu jinak merpati
aku tak peduli yang lain
hanya kalian
biar langit runtuh, bumi belah
takkan kuhiraukan
asal kalian tertawa sentosa
kan kunikamati hingga saripati terakhir
saat saat ini
karena esok: ketika kalian kian beranjak
entah apa kan terjadi
kutahu
sebagai pribadi
kalian akan membawa
adat kemauan dan takdir sendiri
jadi esok mungkin saja
kita akan bersebrangan
Maka hanya hari inilah milik kita
kan kureguk cucup semua
hingga hilang dahaga
kan kucebur selami kebersamana kita
hingga tak ada penyesalan
dan bila esok berbelok
ke arah yang tak terduga
aku masih bisa bergumam:
setidaknya aku pernah meraskan
kebersamaan nan ajaib ini
hanyut aku dalam cinta kalian(*)
(ketika kembar menginjak 3 tahun sebulan)
kan kureguk utuh penuh kebersamaan kita
kaka yang lemah manja
dede yang selalu jinak merpati
aku tak peduli yang lain
hanya kalian
biar langit runtuh, bumi belah
takkan kuhiraukan
asal kalian tertawa sentosa
kan kunikamati hingga saripati terakhir
saat saat ini
karena esok: ketika kalian kian beranjak
entah apa kan terjadi
kutahu
sebagai pribadi
kalian akan membawa
adat kemauan dan takdir sendiri
jadi esok mungkin saja
kita akan bersebrangan
Maka hanya hari inilah milik kita
kan kureguk cucup semua
hingga hilang dahaga
kan kucebur selami kebersamana kita
hingga tak ada penyesalan
dan bila esok berbelok
ke arah yang tak terduga
aku masih bisa bergumam:
setidaknya aku pernah meraskan
kebersamaan nan ajaib ini
hanyut aku dalam cinta kalian(*)
(ketika kembar menginjak 3 tahun sebulan)
12 Februari 2010
Kita
bersisian
tapi terpisah lautan
itu kita
terbaring di ranjang sama
tapi hanya mendengar degup-detup
dari dada sendiri sendiri
kau asik dengan harapanmu
aku sibuk dengan kecewaku
waktukah yang bersalah
merenggangkan kita
atau kekecewaan: serupa pasir
datang sebutir-sebutir
lalu menjelma gunungan
ini bukan impianku(*)
tapi terpisah lautan
itu kita
terbaring di ranjang sama
tapi hanya mendengar degup-detup
dari dada sendiri sendiri
kau asik dengan harapanmu
aku sibuk dengan kecewaku
waktukah yang bersalah
merenggangkan kita
atau kekecewaan: serupa pasir
datang sebutir-sebutir
lalu menjelma gunungan
ini bukan impianku(*)
01 Februari 2010
Atticus
: to kill a mockingbird
aku tersuruk
hilang arah, lupa waktu
bibir sudah terlalu lelah
tapi masih menggeletar
atticus! atticus! atticus!
terus kepanggil ia:
seorang lelaki
yang mau melawan kaum sendiri
demi menuruti kata nurani
ia putih
tapi bisa melihat
warna serupa
di hati si hitam
yang teraniaya
diperkosa lalu difitnah
ia diasingkan
diludahi
dimusuhi
tapi ia tetap melanglah
"ini adalah sesuatu
yang merasuk ke hati nurani.
aku tak sanggup pergi ke gereja
dan menyembah tuhan
jika aku tak menolongnya"
ah
atticus! atticus!
terus kucari ia
ke setiap lorong
tiap bangunan
dan pelataran
tapi tak ada
sama sekali tak berjejak
ia mungkin sudah mati
dan nurani kini
tak lagi berarti(*)
aku tersuruk
hilang arah, lupa waktu
bibir sudah terlalu lelah
tapi masih menggeletar
atticus! atticus! atticus!
terus kepanggil ia:
seorang lelaki
yang mau melawan kaum sendiri
demi menuruti kata nurani
ia putih
tapi bisa melihat
warna serupa
di hati si hitam
yang teraniaya
diperkosa lalu difitnah
ia diasingkan
diludahi
dimusuhi
tapi ia tetap melanglah
"ini adalah sesuatu
yang merasuk ke hati nurani.
aku tak sanggup pergi ke gereja
dan menyembah tuhan
jika aku tak menolongnya"
ah
atticus! atticus!
terus kucari ia
ke setiap lorong
tiap bangunan
dan pelataran
tapi tak ada
sama sekali tak berjejak
ia mungkin sudah mati
dan nurani kini
tak lagi berarti(*)
01 Januari 2010
Kau Sang Asa Yang Berkepingan
kau mungkin bermimpi jadi bidadari
disanjung puji setiap hari
padahal aku hanya lelaki
egois yang terus menghitung
ruas-ruas kekecewaan
yang silih berganti mendatangi
maka aku pun terdiam
mulut kelu
mata sayu
dan kau
dari sudut kamar
menatap penuh sesal
dan aih,
apakah itu yang berkecemuk di kepalamu?
angan-angan yang berkhianat
atau
asa yang berkepingan(*)
disanjung puji setiap hari
padahal aku hanya lelaki
egois yang terus menghitung
ruas-ruas kekecewaan
yang silih berganti mendatangi
maka aku pun terdiam
mulut kelu
mata sayu
dan kau
dari sudut kamar
menatap penuh sesal
dan aih,
apakah itu yang berkecemuk di kepalamu?
angan-angan yang berkhianat
atau
asa yang berkepingan(*)
Nisan Hati
aku harus bersiap
mencari nisan
untuk menguburkan hatiku
yang kian beku:
tiada harap, tak ada lagi kecewa
di tahun baru aku pun
akan menjelma mayat
berjalan tanpa api
tanpa persaaan
hanya melangkah
menuju titik akhir
yang kian keras
terendus aromanya(*)
mencari nisan
untuk menguburkan hatiku
yang kian beku:
tiada harap, tak ada lagi kecewa
di tahun baru aku pun
akan menjelma mayat
berjalan tanpa api
tanpa persaaan
hanya melangkah
menuju titik akhir
yang kian keras
terendus aromanya(*)
15 Desember 2009
Bercinta Tanpa Kata
ini hanyalah malam yang sama
kau mengelusku, memberi isyarat
lalu kita bercinta:
penuh keringat, tanpa sepatah kata
apakah cinta kita sudah
begitu saling memahami
hingga tak perlu
lagi segala kata-kata?
ataukah kita tengah berpacu
menuju kesunyian
yang hampa?
malam nanti kau mungkin datang lagi
ke kamarku
mengelus ini dan itu
meminta
aku mungkin akan coba
berkata-kata
mengucap sepatah dua puji dan rayu
agar cinta kita
tak mati kesepian(*)
kau mengelusku, memberi isyarat
lalu kita bercinta:
penuh keringat, tanpa sepatah kata
apakah cinta kita sudah
begitu saling memahami
hingga tak perlu
lagi segala kata-kata?
ataukah kita tengah berpacu
menuju kesunyian
yang hampa?
malam nanti kau mungkin datang lagi
ke kamarku
mengelus ini dan itu
meminta
aku mungkin akan coba
berkata-kata
mengucap sepatah dua puji dan rayu
agar cinta kita
tak mati kesepian(*)
09 Desember 2009
Meneropong Masa Depan Belahan Jiwaku
termangu menatapmu
dua belahan jiwaku
pagi yang heboh:
berkeras menolak mandi
dan makan
kalau tidak lantas jalan-jalan
siang yang gerah:
diwarnai tangis kalian
yang tetap menolak dipaksa
memakai celana
malam yang berisik:
dede terus saja merengek
meminta nenek
tetap duduk saat menemaninya bobo
ah, padahal kalian baru
sejenak menemani
baru dua atau tiga langkah saja
tapi sudah kulihat gambaran
masa depan itu:
kalian menempuh jalan sendiri
meski kupaksa memilih
yang kumau
anak, kata pujangga itu
memang serupa anak panah
kita hanya berhak mengarahkannya
setelah lepas dari busur
ia adalah milik dirinya sendiri
ia memiliki peruntungannya sendiri
bulan depan
kalian akan genap tiga tahun
tapi sungguh sudah banyak
yang kurasa bersama kalian
kembar belahan jiwaku(*)
dua belahan jiwaku
pagi yang heboh:
berkeras menolak mandi
dan makan
kalau tidak lantas jalan-jalan
siang yang gerah:
diwarnai tangis kalian
yang tetap menolak dipaksa
memakai celana
malam yang berisik:
dede terus saja merengek
meminta nenek
tetap duduk saat menemaninya bobo
ah, padahal kalian baru
sejenak menemani
baru dua atau tiga langkah saja
tapi sudah kulihat gambaran
masa depan itu:
kalian menempuh jalan sendiri
meski kupaksa memilih
yang kumau
anak, kata pujangga itu
memang serupa anak panah
kita hanya berhak mengarahkannya
setelah lepas dari busur
ia adalah milik dirinya sendiri
ia memiliki peruntungannya sendiri
bulan depan
kalian akan genap tiga tahun
tapi sungguh sudah banyak
yang kurasa bersama kalian
kembar belahan jiwaku(*)
Langganan:
Postingan (Atom)