08 April 2009

Diudag Rasa Dosa

aya nu sumeleket
tiap kali ingat anjeun
nu teu walakaya
meureun itu rasa dosa

aya papaler
yen diri geus migawe
nu kudu dipigawe
tapi jauh jeroeun dada
aya pananya
nu teu anggeus-anggeus: naha bakti geus cukup?

rasa rumasa beuki kandel
mun inget baheula
basa anjeun bebeakan
keur ngahuapan kuring
kiwari kuring geus manjing
naha bet semua apilaian?

"ah, teu kitu
teu rumasa apilain
da lengkah kapan kacandet
rupa-rupa halangan"

panghibur diri nu butki
teu bisa mateni
rasa nu terus sumeleket
tiap inget ka anjeun
nu ngajoprak taya kawasa
ah...(*)

07 April 2009

Kesimpulan

sudah pasti kini
aku kembali di luar
di dalam orang melingkar,
mederas tuntas
aku terus meneriakkan hasrat
dalam hati
: terasing bukan karena bakat,
semata tak miliki keberanian(*)

Fragmen: Kedalaman Tak Terselami

sebuah pengakuan di jalan setapak. Pada obrolan dari tiga lelaki beranjak tua.
- ia begitu muda, begitu berbakat, bergitu hebat
+ ya, tapi aku melihat hal yang lebih aneh
- o, apa itu?
+ tuan muda kita. usianya belum 30 tapi lihatlah ia
saat melatih remaja berbakat kita.
selalu mampu menekan, selalu melihat celah, selalu melihat jalan
orang pertama terdiam. seperti merenungkan kata orang kedua.
= kukira itu betul. guru muda yang bisa mengasah remaja berbakat
hingga mengguncang jagad, sudah pasti luar biasa
irang pertama manggut-manggut.
langkah mereka terus mengayun menuju pergurun awan, tempat mereka sehari-hari bersemayam.
itulah perkumpulan baru. menyatukan orang-orang yang terusir atau kecewa. membentuk sebuah paguyuban silat yang kemudian menjelma jadi sebuah perkumpulan yang disegani.
diketuai seorang tua bijak berilmu tinggi. sedang wakilnya, sang menantu yang baru 27 tahun dan kain hari kian jelas bahwa ia memiliki kedalaman ilmu dan pengetahuan yang sangat sulit diukur.
ini tentang cerita pendekar tanpa tanding yang belum disadari dunia persilatan.(*)

Harap Membocah

harap yang membocah
menjerit menarik-narik
ingin lepas dari pegangan
mereguk fatamorgana
seolah niscaya
tapi kesadaran itu masih ada,
mengeratkan pegangan
mengerem langkah menunju lubang(*)

05 April 2009

Jelang Pemilu

janji yang diulang ulang
dan terus dingkari
semusim sekali
kita dibuat muak

kebebalan mereka
rakus merebutnya dari kita
hingga tak tersisa lagi
keyakinan itu
harapan itu
lalu putih terhampar dimana mana(*)

Hayal Hari ini

di depan layar kaca
udara mendadak direngkuh kabut
lalu setitik cahaya menjelma pusaran
membawaku jauh ke sana

hari ini menjelma pendekar muda
di negeri berjalan pedang
kukuh ditempa keadaan
masa depan cerah membentang
pada sebuah partai besar

petualangan
kedigjayaan
kepahlawanan
silih berganti mendatangi
jalan mudah, jalan sulit
jalan remang-remang
memnyodorkan nasib terang:
esok yang kian gilang gemilang

o, hidup yang menantang
di dalam sana
semua sempurna
sang pendekar selalu di depan
atasi masalah dan cobaan
dengan cerdik bermartabat

tapi ah lihatlah itu
kian lama cerita terangkai
kian datar dan hambar
hidup yang nyata
justru lebih menantang
karena kejutan-kejutan yang mencegatnya

hayal seperti ini
mungkin benar
kata cerdik pandai itu
hanya jalan lari
dari kenyataan pahit dan kecewa
ah....(*)

Indonesia

di negeri ini
lembar koran
berulang setiap hari
korupsi
perampokan
pembunuhan
aborsi

di tanah ini
hutan digunduli
danau diuruki
harapan disudahi
setiap hari

di sini
apatisme diternakkan
dirabuki kerakusan para petinggi

di bumi ini
akhir terasa begitu dekat(*)

Dan Begitulah

akhirnya begitulah
aku hanya tertawa
haru biru di dalam dada
kutumpahkan dalam ha ha ha....
kau selalu saja begitu
memberi kata kejutan
di tempat yang tak elegan:
di sadel butut, di laju keramian jalan
tapi ya begitulah engkau
seribu kali dinasihati
selalu kembali dan kembali lagi
maka aku pun tesenyum saja
biar kau bingung menebak nebak
padahal hatiku menghitung waktu: satu, dua, tiga
dan rasa tak lama lagi akhir itu kan tiba

pada ujungnya begitulah
jarak kian terasa antara kita
juga gamang juga ego
sempat aku tak peduli bila ini jadi akhir
kecuali terselip rasa kasihan buat dua yang terkasih
sempat pula kuurai kemungkinan lain: mengalah demi keutuhan
tapi semua hanya berputar, menjadi labirin
tanpa akhir yang pasti

pada akhirnya begitulah
kubiarkan mengambang
soal rumah atau apapun juga
akan selalu mengganggu kita
kembali dan kembali lagi
ku putusakan melangkah saja
mencoba melipat-lipat kesal
dan menyusunnya dalam lemari hati
sambil sabat menunggu esok seperti apa
sambil menanti kejutan lainnya
dari engkau

dan begitulah
aku tak akan terkejut
tak akan ada kecewa berlipatan
bahkan yang terburuk sudah pernah kuangankan
satu yang sudah pasti:
apapun antara kita
ku kan terus melangkah pasti(*)

03 April 2009

Setelah Lama di Jakarta

kulihat seorang bocah lusuh melolong
di bawah deras hujan di depan mall
seorang lelaki berpayung di sampingnya
berusaha menarik-narik tangannya
sempat kuhentikan langkahku
dan cetus itu langsung
mengusik hati:
"jangan-jangan ini penculikan
untuk dijadikan anak jalanan"

kusua seorang pria setengah baya
menyapa dengan manis budi
sangat akrab serasa sahabat lama
aku membalasnya dengan ragu
syak itu menyelip mengganggu
"jangan-jangan ia pura-pura baik
karena ada maunya?"

dalam penantian mengesalkan
di hadapan birokrasi
kulihat silih berganti tamu elegan
bertas besar datangi kepala bagian
curiga pun menyapa
"mungkin tas itu berisi amplop
sogokan untuk melicinkan proyek"

seorang tetanggaku mendadak sentosa
membangun rumah seperti tak peduli biaya
aku pun menjawil istri
"paling ia korupsi.
mana mungkin seorang pegawai negeri bisa begitu?"

setelah bertahun di kota ini
hari berganti, syak wasangka justru menjadi-jadi(*)

01 April 2009

Aku Kesal, Kau Heran

selalu dan selalu berulang: kesal yang pekat merampas semua hasrat dan keceriaan hingga hari pun berawal dan berakhir dengan murung

selalu juga serupa sebabnya: kau beri kabar, seolah biasa saja, bahwa ini hari buah hati kita harus kembali pergi mengungsi karena tiada yang menjaganya sementara kau dan aku sibuk kerja

kau selalu anggap biasa: menitip mereka pada kerabat dekat yang sudah terbukti telaten dan bisa membuat mereka terus tertawa apalagi kau pun dulu nyaman sentosa di tempat sama

kaupun selalu merasa takjub: apa pasal yang buat aku kesal dan menghancurkan hari dengan cemberut dan umbar amarah, toh banyak yang lain juga melakukannya

aku juga kerap heran: tapi aku tak bisa menghentikannya rasa itu terus saja datang dan datang mungkin karena ku tahu mereka telah hampir gagal membesarkan anak idaman, anak mereka sendiri
atau juga karena aku terlalu sayang dan khawatir pada anak2ku lantara aku sudah sering merasa betapa sakitnya melihat mereka sakit atau menderita....(*)