meureun moal aya katumbiri
ukur hujan nu malidkeun cimata
na tungtung poe
basa urang teteg: ngelengkah jalan sewang-sewangan
asih urang kungsi nyanding
na taman penuh warna endah
hanjakal teu lana
laas ditincak waktu
nu kawasa misahkeun urang
nu beuki peuteukeuh
na ego masing-masing(*)
31 Maret 2009
Angan Sepanjang Jalan
diayun lamunan sepanjang jalan
saat menyelinap di tengah kemacetan
beranekarupa:
umumnya perihal hidup
yang lebih indah
lebih berjaya
lebih bergaya
di dalamnya kubisa bersaling rupa
jadi segala
pahlawan perkasa
pecinta romantis
pembunus sadis
penganut yang tawadlu
jarak terbentang tak terasa sudah
habis disesaki angan
indah membuai tapi segera saja usai
ketika tujuan tlah sampai
lalu aku pun kembali
menjadi asli: serba kurang, serba keluh(*)
saat menyelinap di tengah kemacetan
beranekarupa:
umumnya perihal hidup
yang lebih indah
lebih berjaya
lebih bergaya
di dalamnya kubisa bersaling rupa
jadi segala
pahlawan perkasa
pecinta romantis
pembunus sadis
penganut yang tawadlu
jarak terbentang tak terasa sudah
habis disesaki angan
indah membuai tapi segera saja usai
ketika tujuan tlah sampai
lalu aku pun kembali
menjadi asli: serba kurang, serba keluh(*)
30 Maret 2009
Dunia Apa
tangis tangis tak lagi tularkan kesedihan
tawa tak sodorkan ceria
bahkan maut, semata deretan angka
layar kaca, uhhh...
terus saja ia mengulang-ulang semua
setiap menit, sepanjang detik
membuat hati bebal
bikin nurani kebal
atau bosan
kita pun sentosa
menyimak tayangan bencana
di tengah suap suap nikmat
kita bahkan sempat tertawa
karena dengar celetukan sesiapa
saat jenazah terus diangkut
dari reruntuhan nestapa itu
ah, dunia apakah ini?(*)
tawa tak sodorkan ceria
bahkan maut, semata deretan angka
layar kaca, uhhh...
terus saja ia mengulang-ulang semua
setiap menit, sepanjang detik
membuat hati bebal
bikin nurani kebal
atau bosan
kita pun sentosa
menyimak tayangan bencana
di tengah suap suap nikmat
kita bahkan sempat tertawa
karena dengar celetukan sesiapa
saat jenazah terus diangkut
dari reruntuhan nestapa itu
ah, dunia apakah ini?(*)
Kutanam Benih
ku tanam setiap saat
benih-benih itu:
baik dan buruk bercampur aduk
aku pun pulas,
mimpi semua akan berujung sempurna
tapi datanglah hari itu
saat semua kelabu
biji buruk berkecambah
menjelma pepohonan raksasa
menelan semua sinar harapan
aku lantas mengeluh
salahkah sesiapa
lupa sudah persemaian dulu(*)
benih-benih itu:
baik dan buruk bercampur aduk
aku pun pulas,
mimpi semua akan berujung sempurna
tapi datanglah hari itu
saat semua kelabu
biji buruk berkecambah
menjelma pepohonan raksasa
menelan semua sinar harapan
aku lantas mengeluh
salahkah sesiapa
lupa sudah persemaian dulu(*)
29 Maret 2009
Tragedi Gintung
cai nu rohaka
subuh subuh ngebadehkeun cimata
basa bendungan rungkad
nyebarkeun sasalad
gintung
saha nu ngabade
situ asri, taman tumaninah
tanpa ilapat
ngirimkeun caah rongkah
ngipuk kapeurih
cimata getih
meureun pepeling
supaya urang tetep eling
hirup teh bisa gancang anggeusan
boa sukan boa iraha(*)
subuh subuh ngebadehkeun cimata
basa bendungan rungkad
nyebarkeun sasalad
gintung
saha nu ngabade
situ asri, taman tumaninah
tanpa ilapat
ngirimkeun caah rongkah
ngipuk kapeurih
cimata getih
meureun pepeling
supaya urang tetep eling
hirup teh bisa gancang anggeusan
boa sukan boa iraha(*)
Yang Terhanyut Bandang Situ Gintung
pagi buta yang mendadak bah
membuat dada terengah-engah sesak
air keruh air lumpur
berlomba menyerbu paru paru
gulita semesta, gelap semata mata
jerit dan keluh
bersahutan berpindah pindah
seperti ikuti arus ganas dan cepat
o, apakah ini?
mengapa tiada pertanda yang tiba
semalam saat kami ceria di meja makan
saling melempar banyolan
dan berkali-kali bersulang untuk keberhasilan
o, apakah ini?
lumpuh segenap indraku
gapai gapai yang percuma
teriakan yang tak bersuara
nyeri jalari sekujur kulit
mautkah? atau kimat?
hitam, semua menjadi hitam(*)
membuat dada terengah-engah sesak
air keruh air lumpur
berlomba menyerbu paru paru
gulita semesta, gelap semata mata
jerit dan keluh
bersahutan berpindah pindah
seperti ikuti arus ganas dan cepat
o, apakah ini?
mengapa tiada pertanda yang tiba
semalam saat kami ceria di meja makan
saling melempar banyolan
dan berkali-kali bersulang untuk keberhasilan
o, apakah ini?
lumpuh segenap indraku
gapai gapai yang percuma
teriakan yang tak bersuara
nyeri jalari sekujur kulit
mautkah? atau kimat?
hitam, semua menjadi hitam(*)
Gintung
berita dari lembah
datang pagi buta
tiba-tiba bah
tiba-tiba darah
tiba-tiba tiada
tiba-tiba duka
tiba-tiba luka
tiba-tiba
gintung
gintung
situ sentosa dalam angan angan
situ nestapa dalam pandangan
dinding yang runtuh
mengirim kan air mata
membanjir
iringi tubuh tubuh luka
darah darah leleh
nyawa nyawa terbang
hati hati ngungun
gintung
gintung
alangkah singkatnya kehidupan
alangkah tak terduganya(*)
datang pagi buta
tiba-tiba bah
tiba-tiba darah
tiba-tiba tiada
tiba-tiba duka
tiba-tiba luka
tiba-tiba
gintung
gintung
situ sentosa dalam angan angan
situ nestapa dalam pandangan
dinding yang runtuh
mengirim kan air mata
membanjir
iringi tubuh tubuh luka
darah darah leleh
nyawa nyawa terbang
hati hati ngungun
gintung
gintung
alangkah singkatnya kehidupan
alangkah tak terduganya(*)
Boa
meureun hate nu kingkin ku kasimpe
boa angen-angen nu terus dirobeda panasaran
ngabeungkeut carita urang: lugay di senayan
dina amparan jukut hejo, dina iuh-iuh tatangkalan sisi jalan
aya rasa nu sirungan
kasiraman mindengna paduduan
kagemukan leukeunna silih udar kahanjakal
tapi kapan jalan teh tarahal
bongan rasa urang tumuwuh di tempat terlarang
kuring geus aya nu boga, anjeun oge sarua
ah....(*)
boa angen-angen nu terus dirobeda panasaran
ngabeungkeut carita urang: lugay di senayan
dina amparan jukut hejo, dina iuh-iuh tatangkalan sisi jalan
aya rasa nu sirungan
kasiraman mindengna paduduan
kagemukan leukeunna silih udar kahanjakal
tapi kapan jalan teh tarahal
bongan rasa urang tumuwuh di tempat terlarang
kuring geus aya nu boga, anjeun oge sarua
ah....(*)
24 Maret 2009
Ah..
mungkin cinta hanya sepercik racun
menodai hati hingga terus sibuk berkelahi
melawan ego yang terluka
lihatlah malam ini
tergolek sendiri aku
berguling ke kanan-kiri
resah itu membuat mata nyalang
tadi sore kau memilih pergi tanpa permisi
aku terlalu mengekangmu? ah...(*)
menodai hati hingga terus sibuk berkelahi
melawan ego yang terluka
lihatlah malam ini
tergolek sendiri aku
berguling ke kanan-kiri
resah itu membuat mata nyalang
tadi sore kau memilih pergi tanpa permisi
aku terlalu mengekangmu? ah...(*)
Aku dan Si Kembarku
kalianlah rembulan dan mentari yang terus terangi hatiku an jadikanku sempurna: di pagi yang hangat saat kalian merengek rengek minta dimanja, pada siang yang riang kalian menarik-narik minta permainan peran itu terus diulang ulang, saat sore ketika begitu banyak yang kalian mau, atau kala malam saat bangunmu berhias tangis dan pipis.
kalian mulai mewujud watak yang mencemaskan: berlomba membesarkan ego, berkeras tak mau dibujuk bujuk, atau terus ucapkan kata kata buruk. Tapi aku tetap sayang kalian sepenuh penuhnya. dan akan tetap begitu bahkan bila kalian menjadi lebih buruk lagi.
aku kerap ingin menjelma payung, atau rumah, yang selalu lindungi kalian dari panas dingin dan terpaan segala buruk. aku bahkan tak peduli disebut terlalu protektif. aku siap menjadi buruk dan dicela sesiapa asal yakin telah memberi kebaikan utama buat kalian.
aku tak sempurna dan tak mampu memberi yang sempurna. kadang bahkan gundah bersimaharaja manakala kulukis masa depan kita di dalam angan. tapi aku akan selalu berusaha sebisa bisa. dan gulana itu justru akan memahatku menjadi karang yang kian teguh menghadapi terpa gelombang yang tak sudah sudah.
aku hanyalah seorang ayah yang tak tahu apa jadinya tanpa kalian.(*)
kalian mulai mewujud watak yang mencemaskan: berlomba membesarkan ego, berkeras tak mau dibujuk bujuk, atau terus ucapkan kata kata buruk. Tapi aku tetap sayang kalian sepenuh penuhnya. dan akan tetap begitu bahkan bila kalian menjadi lebih buruk lagi.
aku kerap ingin menjelma payung, atau rumah, yang selalu lindungi kalian dari panas dingin dan terpaan segala buruk. aku bahkan tak peduli disebut terlalu protektif. aku siap menjadi buruk dan dicela sesiapa asal yakin telah memberi kebaikan utama buat kalian.
aku tak sempurna dan tak mampu memberi yang sempurna. kadang bahkan gundah bersimaharaja manakala kulukis masa depan kita di dalam angan. tapi aku akan selalu berusaha sebisa bisa. dan gulana itu justru akan memahatku menjadi karang yang kian teguh menghadapi terpa gelombang yang tak sudah sudah.
aku hanyalah seorang ayah yang tak tahu apa jadinya tanpa kalian.(*)
Langganan:
Postingan (Atom)