27 Februari 2009

Panineungan Urang

LABUH rasa lebur cinta. dina galengan nyampay carita. tutundaan baheula: basa leungeun anjeung raket nangkeup cangkeng. pagegeye mapay sisi sawah. paguneman diselang ciwit-cikikik. dunya nu urang, pinuh warna katumbiri.

lebah tampian urang reureuh. cai entuk herang marahmay. suku ucang angge kukucibekan. panas ilang, rasa reureug nyaliara. ngadon silih paling deuleu baru teu kendat ngabaledogkeun imut.

ka lebah lalamping pasir urang silih rangkul taktak. ngadurenyomkeun pikahareupeun. soal rencana jumlah anak jeung bentuk imah.(*)

Hidup Ini

ASU!

Sajak Gurun

AKULAH padang gurun
tandus, rindui kasih sejati
oaseku menjadi madu
persinggahan lebah pengelana
mereka berbaris, menunggu giliran, setiap malam
datang dan pergi
berganti ganti
mereguk tubuhku inci demi inci
tinggalkan padang gersang
tanpa semak harapan(*)

Titeuleum dina Lamunan

hayang teuing melesat ka alak paul. sare na amparan mega. mipit bentang. siduru na haneutna sarangenge. taya kainggis, teu rempan ku isuk. hiber, bebas, leupas tina sakarung bangbaluh dunya.

"ah, lalamunan teu junun!" anjeun kucem. asa dicentok: naha iraha terakhir anjeung ngebrehkeun imut? asa geus likuran taun. baeud anjeun, mateni tengtrem urang.

langit, satungtung deuleu. kuduna kita hate urang. lega, bisa narima sagala: karudet, kasedih, komo rasa gumbira. tapi langit urang kiwari ceudeum haleungheum. kajembar dirobeda curiga, ditandasa kahayang teu tinekanan.(*)

Tasaro Menyihir lewat Samita

Kedewasaan tak ditentukan umur. Itu jelas benar bila kita mengamati kiprah para penulis muda. Mereka begitu produktif dan menggebu. Banyak, di usianya yang belum 30, sudah mampu melahirkan karya-karya bernas.

Kemarin baru kubaca salah satunya. Karya Tasaro (Taufik Saptoto Rohadi) yang baru berusia 29 tahun. Ia menulis cerita silat berlatar masa akhir kerajaan Majapahit. Samita: Bintang Berpijar di Langit Majapahit, buku itu, juga menyertakan tokoh silat dari Cina, Laksaman Cheng Ho dan murid-muridnya.

Membaca karya ini kita pun segera ingat Kho Ping Hoo dengan cerita silat-silatnya. Banyak kemiripan. termasuk dengan khotbah tentang esensi hidup yang banyak tersebar di dalamnya.

Buku ini menarik. Sebagai penggemar cerita silat, saya menyukainya. Membandingkan dengan tiga pengarang lain yang baru saya baca karyanya: Langit Kresna Hariadi (Serial Gajah Mada), Saini KM (Banyak Sumba), dan Gamal Komandoko (Sangrama Wijaya), Tasaro mampu menempati tempat lumaya.

Samita terasa masih di bawah Gajah Mada. Langit memang begitu piawai menghadirkan alur yang kaya dengan kejutan dan daya pikat. Bahanya juga mengalir lancar dan indah.

Tasaro kalau pun terpaut tidak jauh. Bukunya memiliki plot yang solid. Bahasanya enak. Kepiawaian dia meminjam idiom-idiom Cina dan pemahaman yang cukup terhadap budaya jawa dan Islam terasa menjadi nilai tambah.

Kekurangannya: dia masih kerap terlalu berpanjang-panjang, terkesan menggurui, dalam dialognya. Sehingga saya pun sempat terdorong melakukan lompatan-lompatan halaman karenanya.

Entah seperti apakah buku ini di pasarana. Menilik tahun terbitnya, 2004, dan tak banyak publikasi tentangnya, tampaknya tidak terlalu menggembirakan. Tapi bila anda rindu pada cerita silat, bukunya bisa jadi bahan pengobat yang lumayan.(*)

25 Februari 2009

Jogjaku

kota ini istimewa
semata karena orang menyebutnya begitu
itulah selalu perasaanku
di sana tak ada apa apa
kenangan pun nyaris pupus tuntas
tertinggal bayang bayang mengabur
wajah dan tempat tempat yang kembali menjadi asing
di pelukan kota itu
siang yang gerah
di isi ceramah yang tak cerdas
malam: hapalan, hapalan, hapalan
atau tersedot sihir layar kaca
seperti di bawah setangkup batok
menjadi katak buta dunia
tanggung, setengah setengah
ilmu tiada, asmara tuna
setelah beranjak
baru tersadar: alangkah banyak yang lepas
menerobos sela jari jari yang gagap mengepal
jogja...
bagiku: hanya senoktah kenangan muram(*)

Sanggrama Wijaya

hidup bagimu apakah?
masih belia kau sudah melihat semua
raja hebat, ayah dari istrimu, terbuta oleh puja puji
menjentik semut, menginjak cacing
lalu terkejut oleh hasilnya:
semut dan cacing menghunus badik
kerahkan wadya merebut tahta
satu kali ia bisa dibendung
tapi yang lain tak habis habis
bergelombang seperti bah
berlomba menebus sakit hati, merengkuh ambisi

hidup bagimua apakah?
saat matahari belum di ubun
kau sudah merasakan segala
menyimpan nurani di balik lekuk keris
tiada jalan tercela untuk merengkuh kejayaan
tipu muslihat

hidup bagimu apakah?
keledai saja tak jatuh dua kali
tapi kau mengulang jua langkah itu
cedera janji, meremehkan bakti, menjaga kursi
semut dan cacing kembali berbaris
menguskikmu: tiada lelah, tak sudah sudah

hidup bagimu apakah?(*)

Mendaki

setangkup gunung sekabut misteri
hutan perawan, ngarai tak berdasar
batu, akar, onak, duri,
menghalangi langkah kita, aku dan engkau

peluh dan keluh
tak surutkan langkah
hati kita kembara mendahului ke puncak
serasa sudah mengecapnya
pemandangan surga:
undakan sawah berseling sungai mengelok indah
tegalan dan semak-semak
tenunan pelangi sejuta warna

inilah hidup kita
mendaki menyiang misteri
beganti setiap hari:
kejutan, kebahagiaan
penderitaan, kesedihan
tak surutkan kita
terus menapak dibuai cumbuan puncak
kebahagiaan bersaput kabut(*)

Ngudag Mumunggang

ngarayap selengkah salengkah
ngajugjug mumunggang implengan
rumahuh: bangga jeung cape pohara
jungkrang jungkrang karempan
gawir gawir kagimir
ukur bisa mepende hate ku gambaran engke
neuteup dunya ti puncak pasir:
bubulak ngampar, sawah ngeplak
dipayungan langit biru beresih
bleg sawarga

enung, itu teh lalakon urang
mapay lamping pinuh kaseunggah
hirup nu teu kendat rumahuh
coba, gogoda, teu kendat kendat
tapi teu kudu mopo
suku urang terus lengkahkeun
na hate kotretkeun gambaran eta:
endahna mumunggang nu liuh
mumunggang urang, gunung impian(*)

24 Februari 2009

Karya

Karya serupa anak: berjiwa, memiliki nasibnya sendiri. Hadir dari sebuah proses, kadang panjang kerap pendek, ia tertuang dalam sebuah bingkai waktu. Ia tersimpan rapi atau mungkin tergeletak terbungkus lupa. Ketika kelak melihatnya lagi kita pun dibuat terheran-heran: betulkan aku melahirkannya?

Karya tak ada yang gagal. Yang terburuk pun akan mengandung banyak hal: inspirasi yang bisa digali lagi, potret yang menyimpan kenangan, atau sebuah titik dalam proses belajar melangkah belajar menjadi lebih baik.

Karya adalah buah dari perjuangan. Kita berkeringat, malawan malas, dan kerap berkali-kali gagal mewujudkannya. Ketika ia akhirnya menjelma, kita pun merasa puas meski hanya sesaat. Sesaat saja karena kemudian sering kali kita menemukan lubang yang menganga dan ingin segera menambalnya. Karena itu karya kerap jadi perjuangan tanpa ujung.

Karya adalah penanda. Karenanya seorang akan diingat. Karenanya seseorang akan dihargai. Jadi bila belum juga punya karya hari ini: menangislah lalu bergebas meneguhkan hati untuk memulai.(*)